Tampilkan postingan dengan label tulisanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tulisanku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Agustus 2019

LONELY-LOVE (GOOD)

Pergi ke lokasi ramai, berjalan-jalan tanpa mencari tempat duduk, melihat-lihat berbagai barang atau benda yang mudah merangsang indera penglihatan, menggenggamnya, melihat secara mendalam, memberikan perspektif egois, dan jika cocok kau simpan sedangkan kembalikan saat tak ingin.

Nyalakan objek yang mampu membangkitkan pendengaran, mengisi kekosongan ruang, memilih benda-benda yang bahkan tak asing untuk sekadar dipegang  atau disingkirkan dibersihkan, bahkan mencoba mengotak-atiknya dengan prasangka akan jauh lebih baik jika dilakukan. Mencoba mengisi pikiran dengan banyak hal.

Tidur, berdendang, mengisolasikan tubuh, bahkan mencari lokasi paling “nyaman” *di sini bisa berarti paling sepi atau gelap*

Tiga cerita di atas adalah beberapa hal yang teramat sering dilakukan oleh kita. Kali ini aku ingin menuliskan tentang bagian drama dalam kehidupan *lagi?* maaf terlalu sering kali ya. Nggak juga, baru beberapa kali. Nggak papa ya. Kita bisa sekadar share soal ini. Ini nya apa?
Ini-nya itu tentang salah satu bagian hidup kita, hal dalam kehidupan, yaitu sendiri, menyendiri, sendirian, kesepian. Why? Mengapa dipilih tema ini?
Back to aku sendiri banyak ngalamin hal seperti ini. Eits, tapi bukan berarti semua hal di atas adalah hal buruk. Ey.. banyak fakta, penelitian, bahwa perempuan *karena penulis kebetulan cewe* banyak membutuhkan waktu sendiri untuk berbagai hal dan itu pun sebenarnya bagus. Laki-laki pun juga seperti itu. Namun, porsinya masing-masing. Yak, selalu porsinya masing-masing. Iyalah ya, hidup kita gamungkin soal ini terus kan yak!
Pada dasarnya, sendiri, menyendiri, kesepian, dan sendirian adalah kata yang maknanya berbeda.

>> sen.di.ri
(a) seorang diri; tidak dengan orang lain; tidak dibantu (pengaruh orang lain) orang lain; terpisah dari yang lain; terasing. (KBBI V)
Sesuai dengan pengertiannya kalau kau sedang merasa sendiri itu hanya dalam keadaan memang gaada orang. That’s it! Jangan kau hubungkan dengan tak ada orang yang mau mendampingimu, membersamaimu, kamu hanya dalam keadaan tanpa orang lain. Bukan kemauan sendiri!

>>me.nyen.di.ri
(v)  mengasingkan diri; memencil; duduk seorang diri. (KBBI V)
Nah, kalau seperti ini kamu sendiri lah yang menginginkan untuk tak bersaqma orang lain. Kamu yang menginginkan. Badanmu, tubuhmu menolak didampingi orang lain. Baik dalam suasana ramai maupun sepi.

>>sen.di.ri.an
(adv) seorang diri; sendiri. (KBBI V)
Kalau dalam keadaan ini berarti bisa disengaja pula. Mungkin ada yang menginginkanmu dalam keadaan ini.

>>ke.se.pi.an
(n) keadaan sepi; kesunyian; lengang; perasaan sunyi (tidak berteman dan sebagainya). (KBBI V)
Nah kalo kamu ngalamin ini, namanya kamu sungguh beruntung. Bisa sial juga sih. Tapi nggak ada yang tau sial itu kaya apa dan beruntung itu yang gimana? Toh ini hanya perspektif.
Kalau dikaitin sama perspektif, okelah, cuma diri kita sendiri yang tau mengapa kita melakukan hal-hal di atas, mengapa kita merasa seperti itu atau diperlakukan seperti itu. Kadang hal tersebut membuatmu merasa nyaman dan sebaliknya.

LONELY-LOVE(GOOD)
Ada yang sadar gasih? Kalau judulnya familiar? Diambil dari salah satu nama sebutan bagi seorang tokoh dalam film fiksi terkenal. Mirip-miriplah walau tulisannya agak beda dikit.
Back to~…tema kita. Aku akan tanya.
Pernah nggak sih kamu dalam kondisi beneran pingin sendiri dan nggak mau ketemu orang?
Banyak yang ketika aku cerita hal begini akan menjawab
Yah, wajar.Yah, nggak papa. Aku juga gitu.Heh, biasa. Wajar kalau setiap hari kerja ketemu orang banyak, terus tiba-tiba pengen nggak ketemu sama siapa-siapa. Itu karena udah jemu sama banyak orang. Nikmatilah.
Kebanyakan akan menjawab seperti ini.
Dulu, aku pernah menikmati, bahkan bahagia, bangga malah tepatnya. Kalau aku bisa kemana-mana sendiri, sendirian, kesepian dan mandiri. Kejadian yang aku lama saat  menghadapi keadaan “sendiri” adalah ketika kamu memutuskan pergi sendiri misal kaya belanja, makan, atau sekadar muter-muter terus ketemu abang cilok ganteng, beli, kemudian pulang. Hanya karena keadaan. Kalau “sendirian” bahkan “kesepian” itu adalah ketika aku bener-bener gabisa ketemu orang atau gabisa menemui orang atau bahkan terpojokkan atau bahkan dikucilkan atau nyeseknya lagi diacuhkan. Kalau mandiri jelas lah ya. Kamu melakukan banyak hal dan menyelesaikan masalah dengan caramu dan pola pikirmu.

Dari ketiga itu yang paling menakutkan dan nggak pengen banget aku alami adalah sendirian dan kesepian. Why? Kamu tau rasanya gaada orang yang bakal peduli? Anggep aja aku lagi haus perhatian. Nggak papa, haus perhatian nggak dosa. Nggak ada orang di dunia ini yang nggak pengen dapet perhatian. Cuma mungkin porsi cukup dan pas-nya beda-beda.

Kalo aku cukup ada orang disampingku, siap dengerin curhat, siap dengerin aku marah-marah, dan jawab semaunya aja kalo aku tanya. Itu cukup. Nggak serakah kan?

Otomatis ketika gaada orang yang bisa seperti itu, aku kudu gimana? Family? Mungkin ini jawaban paling ampuh.

Tapi you know? Nggak semua family itu bakal jadi jawaban terampuh meskipun family adalah jawaban terakhir.

Seperti orang bilang, terutama orangtuaku, beliau akan selalu memberikan petuah. Kalo bukan keluarga siapa lagi?Kalau bukan saudara, siapa lagi? Tapi untuk beberapa hal atau masalah, “keluarga” belum tentu jadi jawaban yang pas.

Sama ketika rasa sendirian bahkan kesepian ini muncul. Hal yang paling membunuhmu adalah kesepian. Mungkin karena ini, aku jadi orang yang sosiable banget. Mengatasi kesepianku, kesendirianku dengan cara menjadikan banyak orang mengenalku, Disini artinya aku harus bergerak dulu memperkenalkan diriku, bukannya diriku harus dikenal. Kenapa?Ntah, itu nyaman bagiku. Meskipun begitukesendirian bahkan kesepian itu gabisa ditebak kapan munculnya. Apalagi kalau sampai pada titik patah hati, udah deh isi kepala meledak gabisa .ngapa-ngapain, udah kaya zombie. Tapi bisa juga kesepian itu muncul karena tiba-tiba kamu merasa tak ada orang yang bisa melengkapi kebutuhanmu saat itu. Tapi yang jelas mereka muncul saat ada alasan. Alasan yang dibuayt tidaklah selalu negatif. Seperti temanya LONELY-LOVE(GOOD)

Orang bisa merasa sendirian, kesepian bukan karena dia membutuhkan orang lain, atau merasa dirugikan banyak hal, tetapi kadang pula merasa aku butuh, diriku membutuhkan untuk sekadar merasa sendirian. Mengapa? Banyak hal dan waktu yang bisa kita lakukan saat kesepian, menyendiri, dan sendirian. Introspeksi misalnya? Bosan? Jenuh? Atau memikirkan banyak hal.

Aku pun pernah, walaupun rada receh ya ceritanya, simak boleh deh. Seperti yang udah ditulisin di atas, saya pernah bangga bisa sendirian, karena itu menguji mental saya untuk bertahan menghadapi banyak keadaan atau masalah. Rasanya sendirian itu bagaikan berjuang memecahkan masalah sendiri, mandiri, bertanggung jawab, bahkan merasa dewasa. Karena alasan-alasan itulah aku merasa perlu melakukannya suatu ketika.

Saat itu sedang tertekan, butuh sebuah waktu hanya untuk menyembuhkan perasaan. Aku mencoba menghilang selama seminggu tepatnya. Banyak yang dipikirkan, baiknya bagaimana? Buruknya apas aja? Memang tidak efektif untuk mendapatkan jawaban bahkan mungkin sebenarnya belum tentu memecahkan masalahmu. Namun, karenanya kamu merasa lebih tenang dan siap kembali bertemu banyak orang.

Pernah juga ketika memang ingin sendirian hanya karena jemu atau bosan. Semua akses kututp hanya berteman bantal/buku/laptop sekadar memanjakan inderamu seharian mungkin? Tiga hari pernah saya lakukan. Itu cukup. Berarti aku tepat menyatakan bahwa aku butuh menyendiri dan sendirian.

Nah dari cerita itu, kuharap bagi siapapun  yang pernah merasakan beberapa hal di atas, tolong jangan selamanya memandang bahwa keadaan itu adalah sebuah hal negatif atau buruk. Belum tentu sesuatu hal buruk perlu dikasihani, simpelnya! Iyakan? karena beberapa kondisi buruk perlu dijadikan cambuk bagi diri sendiri agar lebih tangguh di masa mendatang. Diri kita punya harga diri. Kontrollah hidupmu dengan sebaik mungkin.

Dan ketika kita menjumpai orang terdekat kita melakukan hal-hal di atas jangan pula selalu menanyakan. Tapi buatlah dia menceritakan, tapi bukan berarti memaksa. Kita hargai dia sebagai orang yang bertanggung jawab pada dirinya.

Lonely-love(good)……


KAMU PUN BOLEH MENYENDIRI ATAU SENDIRIAN. KARENA KAMU PASTI BUTUH SAAT-SAAT SEPERTI ITU. BUAT JIWAMU DAN BADANMU. TAPI SEMUA ADA BATASAN DAN PORSINYA MASING-MASING. JANGAN TERLENA DAN BERLARUT. KARENA SEMUA YANG KAMU ALAMI BELUM TENTU SESUATU YANG BURUK. KAMU HANYA MENUNDA/TERTUNDA UNTUK MENEMUKAN KEBAHAGIAAN.

Kamis, 01 Agustus 2019

LOVE ISN’T ALWAYS L-O-V-E

Pernah nggak sih kamu dapat pertanyaan cinta atau persahabatan? Kamu pernah jatuh cinta nggak? Cinta itu ada nggak sih cuy?

Basi yah sebenenya kalo aku mau ngomongin tentang ini. Yaah sebagian dari kita akan muak kalo membahas tentang cinta tapi ada juga yang tergila gila dengan topic tentang cinta khususnya remaja yang sedari esde atau esempe di zaman milenial gini. Aku nggak tau sebenernya apa yang terjadi sama anak zaman sekarang. Sedikit cerita deh zaman aku dulu esde jujur cinta aja mungkin kata yang nggak pernah ada di kepalaku. Esde itu masa anak-anak yang cukup menyenangkan dan mulai belajar untuk berkompetisi karena kamu harus dapet nilai bagus supaya bisa sekolah lagi (naik kelas). Dulu karena aku kids zaman dulu yang masih ngalamin tes pakai jadwal caturwulan-an. Setiap caturwulan itu pasti ada tes. Beruntungnya aku karena ternyata dulu termasuk tipe serius yang belajar aja harus dikelilingin buku-buku buat dibaca dan Alhamdulillah ada hasilnya. Curhat dikit gapapa ya*

Okee, lanjut soal cinta dan masa anak-anak saat esde, mengingatkan aku tentang saat di mana waktu kelas 4 esde dapat surat. Dulu istilah surat cinta nggak begitu hits. Padahal sekarang juga enggak ya, Cuma dulu surat begitu cuma disebut sebagai surat-suratan. Jadi, ketika itu ntah saking polosnya aku ketika dapat surat cinta *istilahnya begitu* bukannya seneng atau gimana gitu, malah dengan pedenya aku baca di depan kelas. Tanpa rasa bersalah sama yang mengirimkan surat kubacakan saja. Wah itu bener nggak bakal kepikiran dan terjadi pada zaman sekarang. Dan kisah itu berlalu begitu saja. Saat di mana lari-lari habis pulang sekolah nonton orang dikuburin karena tiap pulang sekolah selalu ngelewatin makam dan dengan jiwa anak-anak tanpa rasa takut kita selalu nonton kalau pas ada pemakaman dan setelahnya akan lari lewat pematang sawah. Itu hal yang nggak bakan tergantikan. Jadi, kita bisa lihat bedanya anak esde mengartikan cinta dan sahabat kaya apa pasti jauh sekali sama zaman dulu. Persahabatan zaman dulu udah kaya sodara. Dari ngejek sampai seneng itu hal yang cukup untuk dikenang. Kalau sekarang? Bisa jadi sahabat adalah saingan yang nggak bakalan ada kata aku mengalah atau ayok saingan sehat. Buktinya viral dimedia sosial soal anak esde yang seumurannya seharusnya menikmati cinta dan persahabatan dalam arti harfiah, justru jadi salah kaprah. Inilah cinta versi zaman esde.

Beda lagi sama esempe, tentunya lebih pingin cari tahu tentang apasih itu cinta? Kalau anak zaman sekarang mungkin akan mengartikan sebagai kesetiaan, kalau zaman dulu hanya kisah manis. Simpelnya gitu kalinya. Begtiupun esema.

Banyak yang semakin serius menanggapi soal cinta. Jujur saya sendiri sampai kuliah menemukan kata-kata dan membuat konsep bahwa cinta itu nggak ada. Padahal saya nggak pernah jatuh cinta atau patah hati. Kini hampir tiga tahun mengalami banyak kisah tiba-tiba mulai merasakan cinta. Bagi saya rumitnya minta ampun, mending nyelesein logaritma yang bahkan saat SMA harus ikut remedial dan lolos dari batas tuntas. Dan karenanya itu mengubah hidup saya.

Okee, back to LOVE IS’T ALWAYS L-O-V-E

Ada sebuah kutipan dalam drama korea favorit saya, kurang lebih begini

“ Cinta pertama adalah mengagumi; Cinta kedua adalah menggenggamnya; dan Cinta ketiga adalah penyesalan dan keikhlasan”

Habis mendengarkan kalimat-kalimat itu saya jadi teringat banyak kejadian. Bagi saya cinta dan sayang itu beda, cinta nggak pernah abadi, dan kasih sayang adalah segalanya.

“Mengagumi bagai setiap hari adalah perjuangan serta hidup bahagia”
“Menggengam seolah meletakkan kepercayaan dan keyakinan” 
“Penyesalan dan keihlasan layaknya ketidakrelaan akan banyak hal”
“Mereka semua sama”

Hal ini menjadi bagian egois dan keras kepalaku pada hal yang disebut dengan cinta.

Aku selalu percaya bahwa cinta itu mustahil, ia hanya bentuk dari kebanggaan hati pada suatu hal. Namun, ketika aku menggenggamnya maka aku menyerah untuk melepaskannya. Cinta akan selalu pergi kapanpun dia mau.

Dari beberapa kisah yang aku alami, ternyata keras kepalaku banyak buktinya, bahkan seolah ia mencercaku.

“Dunia ini hanya butuh kasih dan sayang, tak butuh cinta”

Sekali lagi aku tegasin bahwa menggagumi, menggenggam kemudian menyesal dan ikhlas takkan pernah ada dalam kata sayang. Ia berharga lebih dari apapun.

Ada sebuah kisah, ketika itu saya diperdengarkan oleh orang lain. Bukan bermaksud menggunjing bahkan mengubrak-abrik puzzle hidup orang. Saya yakin setiap orang punya hikmah tersendiri hidup di dunia ini.

Seperti kata Cho Jung Chi, penyanyi korea, kebetulan belum lama nonton acara varietynya sebagai ayah dari gadis imut dengan panggilan “Eun”, ia mengatakan bahwa jatuh cinta pada anak pertamanya sejak lahir, lakukan yang terbaik agar dia menjadi hal yang baik karena bagaimanapun dia adalah bagian dari kehidupan ini.

Dalam hidup intinya berlaku yang baik.

Okee, balik lagi.

Definisi cinta macam-macam bahkan sayangpun begitu. Dikisahkan bahwa ia hidup bersama laki-laki dan kemudian mempunyai dua nak yang gagah. Awalnya ak hanya melihatnya sebagai pekerja keras yang menjalankan hidupnya dengan hobi. Karena ketika ia bekerja hasilnya lebih dari cukup. Sedang ia memperpanjang waktunya untuk selalu berepot-repot ria di luar kewajiban “kerjanya” apalagi kalo bukan hobi? Dan tentunya ia tak mencari sekadar uang.

Kemudian karena suatu hal ia menjadi tulang punggung. Siapa yang sangka? Tak ada yang tau awalnya seperti apa. Sampai akhirnya dia bercerita sendiri. Saya nggak mau mengorek hidup orang lain masalah orang lain jika tidak karena orang lain ini ikhlas bercerita sendiri.

Ia mengisahkan hidupnya. Ternyata bukan karena hobi ia menjalaninya. Melainkan karena kasih dan sayangnya bagi satu-satunya lelaki yang merupakan letak surganya.

Saya terharu seketika, mengapa? Ia tak butuh cinta walau punya cinta, setidaknya dari kedua anak laki-lakinya. Terbukti dengan tak pernah ia merasakan hidupnya sebagai beban. Ia hanya berkata. Beginilah saya hidup, saya selalu membawa mereka kemanapun mimpi dan jalan saya berada. Ia tak pernah mengeluh. Walau cukup, tetap saja. Ini sesungguhnya bukan kewajibannya. Tapi keadaan menjadikannya wajib seperti ini.

Kau tau? Hidupnya adalah hikmah untuk orang lain. Dan kasih sayang memang lebih ikhlas bahkan lebih besar dari sekadar ikhlas. Cinta? Silahkan definisikan sendiri.

Begitulah keras kepalaku kutanamkan kembali. Merasakan cinta terlalu berat bagi saya bahkan menyakitkan, memang pahit hidup dan perasaan tidak ada yang tahu. Yang tau kamu, siap dan bisa melalui hidup adalah diri sendiri. Dan saya tau letak hidup saya dibagian mana.

Okee, sekian ulasan saya tentang CINTA. Kini saya percaya soal CINTA tapi ia bukan sekadar hal yang utama dalam hidup saya. Bagi saya CINTA hanya bagian dari hidup, kau boleh sebut itu anaugerah. Tetapi tetap saja, hidup bukan sekadar soal CINTA, ada hal lain yang lebih besar dari sekadar itu.

Saya tulis tema ini kebetulan saya sedang berbulan-bulan patah hati, saya mencari cara agar hidup saya kembali normal. Saya tidak mau merusak hidup saya hanya karena CINTA dan patah hati karenanya. Jadi, karenanya saya ingat soal keras kepala saya dan kisah-kisah lain.

Senin, 10 Desember 2018

PART 1


Bacalah kutipan berikut menggunakan nada yang tepat!


Dahulu terasa indah

Tak ingin lupakan

Bermesraan selalu jadi

Satu kenangan manis

Tiada yang salah

Hanya aku manusia bodoh

Yang biarkan semua ini permainkanku

Berulang-ulang kali

Mencoba bertahan sekuat hati

Layaknya karang yang dihempas sang ombak

Jalani hidupdalam buai belaka

Serahkan cinta tulus di dalam takdir

[Ada Band, “Manusia Bodoh”]

Benar nggak sih lirik lagu di atas? Benar nggak sih kalau lirik itu benar terjadi? Benar nggak? Pernah merasakan? Pernah melihat yang seperti itu?

Kalau kita berbincang soal lagu, banyak yang dialaskan oleh sang penulis bahwa lirik yang tercipta berasal dari pengalaman dan tak banyak pula yang mengalaminya sendiri atau sekadar mendapat kisah cuma-cuma dari orang lain. Tidak sedikit pula yang meraba lirik dari membayangkan sebuah kisah melalui film, drama, atau pentas. Jadi kalau kita simpulkan lirik di atas bisa sekali dialami oleh seseorang, meskipun tak banyak, tapi bisa saja untuk dialami.

Manusia bodoh. Hemmm…..hemmmmm…..hemmmmmmmm. Mana ada yang mau disebut manusia bodoh atau menyebut diri sendiri sebagai manusia bodoh. Iyakan ya? Masa iya mau merendahkan diri sendiri? Mungkin dalam lirik itu penulis mau menggambarkan rasa seseorang yang terkadang menjadi seperti manusia yang bodoh. Namanya saja perasaan ya.

*****

“Manusia adalah makhluk sempurna.”

Manusia dalah makhluk sepurna. Karenanya banyak yang tampan dan cantik. Ada pula yang pintar dan kurang pintar. Kita pakai kata kurang pintar ya, jangan bodoh. Kenapa? Karena bodoh itu berarti tak mengerti apapun. Sedangkan kurang pintar itu hanya kurang usaha saja dalam menuju kepintaran. Bukan minteri ya. Beda lagi nanti. Duh ini kenapa macam ribet sama kosa kata ya. [Minteri = membuat orang lain merasa berpengetahuan rendah/mempermainkan orang lain dengan memanfaatkan sesuatu yang ada pada diri orang tersebut]

Benar!

Benar sih! Miscommunication terjadi karena kita sendiri selalu menyepelekan dalam berbahasa. [Miscommunication = kesalahpahaman dalam berkomunikasi]

Fenomena miscommunication kadang lebih disalahkan karena media yang digunakan. Padahal tidak semata itu merupakan kesalahan media. Kenapan media yang notabenenya hanya fasilitas? Sedangkan yang membuat salah adalah isinya! Siapa yang nulis isinya? Ya dirimu, dirinya, atau mereka. Oleh karenanya pantaslah banyak orang mengatakan bijaklah dalam menggunakan media. Apalagi media sosial. Karena kita hidup di eranya saat ini dan mana mungkin aka nada orang yang mengatakan bijaklah dalam menggunakan surat apalagi kantor pos. Iya kan?

Well… begitulah kita, manusia yang mudah menyalahkan, maka disebut orang tak baik atau jahat. Oke! Versi jahat itu juga macam-macam kan! Karena baik dan jahat adalah kata sifat merujuknya pada opini. Ssstttt…!!! Ini bukan pelajaran, tenang! [Kata Sifat = semua kata yang bisa diperluas dengan kata benda]

Jahat versi saya belum tentu sama seperti versi anda, satu kata tapi kriterianya berbeda. Jadi kata ini banyak menimbulkan spekulasi. Karena masih berupa opini. Sok serius deh ini ya! Wkwkwkwk [adalah “hahahahaha” bagi sebagian besar orang Indonesia]

*****

Balik lagi, berarti manusia bisa menjadi apapun tergantung dia bertindak dan berperilaku, maka dari itu dapat disebut dengan berbagai pula label dan simbol. Dengan banyaknya tingkah ini, ya bolehlah dan lumayan cukuplah sebagai dasar bahwa manusia itu sempurna. Sempurna menjudge diri sendiri maupun orang lain? Ingat! semua ini pakai akal. Inilah yang membedakan manusia dengan yang lain. Dan dikatakan sempurna. Karena makhluk lain di dunia tidak memilikinya.

*****

Sebagai manusia yang hidup dan merasakan era globalisasi yang didalamnya tentunya perkembangan teknologi takkan tertinggal, kita akan sering bahkan selalu bisa mengenal orang lain melaluinya.

Dari situ nanti akan terjalin sebuah hubungan.

Ketika bersama dengan teman, sahabat, bahkan pasangan tentunya mereka punya tempat masing-masing. Bersama teman, sahabat, bahkan pasangan akan terjalin pula dalam kenyataan dan maya. Sayangnya jika maya sulit akan menjadi seorang sahabat dekat bahkan pasangan. Bisa! Tapi mungkin akan melalui berbagai tahap yang sulit. Sulit, bukan pada perilakunya tetapi wujud kepercayaan. Karena maya tidak terlihat nyatanya. Sehingga fakta menjadi hal utama dan prioritas.

Okee, berkaitan dengan era globalisasi dan teknologi serta media sosial dengan hubungan. Sering kali munculah berbagai macam masalah karena maya adalah bukan nyata. Jelas banget ini ya gaes.

Apasih kok jadi panjang ini mbahasnya………….! Sorry

Intinya kali ini pingin bahas soal judgement terhadap seseorang.

Tapi kaitannya sama hubungan yaitu teman, sahabat, dan pasangan. Di atas tadi sudah banyak serba serbi soal manusia yang bodoh, manusia yang sempurna makannya jangan sampai jadi bodoh! Karena kamu kalau memang manusia yang harusnya sempurna [bismillah] [hehehe], dan judgement terhadap manusia melalui kata sifat.

Sebenarnya banyak yang bahas, tapi mungkin saya juga ingin bahas dari sudut yang saya tau, saya rasa, dan banyak sekali saya lalui bersamanya [???]

####

Dalam bersosialisasi [meskipun kita dalam lingku[ nyata dan maya] tentunya akan mengenal kata kenal, teman, sahabat, bahkan pasangan. Dan dalam era globalisasi kita akan mengenal media sosial, terutama online. Manusia sebagai makhluk sempurna yang tentunya memiliki akal pasti akan selalu mengikuti perkembangan zaman, terlebih di era ini.

Di media sosial online, sering kali kita mengomentari hidup orang dengan apa yang kita lihat dalam pajangan foto, gambar, suara, dan sejenisnya. Ketika seorang itu dikenal maka kita akan terlalu memikirkannya. Jika hanya sekadar lalu, maka akan membuat kita mengaguminya. Kagum itu tidak selalu berujung manis ya gaes. Hanya saja ada sesuatu yang menjadikan kita mengingatnya, sebutlah seperti itu. Dikasus lain hal tersebut justru berubah menjadi perilaku mengidolakan. Katakanlah perilaku, fashion, bahkan kebiasaan kita akan condong padanya. Bahkan bisa saja bahasa kita juga terpengaruh karena adanya sikap mencontek, mencontoh, dan mengikuti karena sikap mengagumi ini.

Ada sebuah peristiwa, ketika kita melihat seseorang yang dengan sangat terang menunjukkan hidup pribadi, yang melibatkan emosionalnya, dan kita mengenalnya, ada 3 kemungkinan yang mungkin dilakukan: kita bersikap cukup tau saja,merasa ilfeel, atau judgement. Tapi tenang, jika mereka menjalin hubungan serius, dekat, maka yang pertama adalah jawabannya. Ilfeel itu jarang ditemukan. Ia muncul ketika sesuatu yang kita amati itu terlalu sering dan berulang tanpa titik temu dan tujuanya sebenarnya apa? Kebanyakan karena orang pada umunya memang tak menyukainya, tapi tak sedikit pula yang berangkat dari perasaan *kriteria* personal. Tak ada yang bisa disalahkan atau dibenarkan.

Sedangkan Judgment bisa dikatakan sebagai perasaan pribadi juga, tetapi lebih sering berakar dari emosi seseorang. Karena melibatkan emosi tentunya efeknya lebih besar,bagi yang melakukan atau dikenai tindakan. [bahasa saya, hemmm.. nggak papa ya. Tapi tahu kan ya maksudnya?] [Ilfeel = merasa tidak menyukai perilaku seseorang]

Jika melihat ketiganya, dan tren yang berjalan saat ini, Judgement akan adalah hal yang serius sekali. Kenapa? Jika kita ketahui lebih lagi, judgment itu lebih sering terjadi karena kita mengakui tabu bagi orang yang tidak kita kenal sebagai hal biasa. Namun, ketika kita lihat di sekitar kita atau yang tak terlalu dekat pun asal tahu dalam dunia nyata, kata kata seperti judging buruk akan tetap diutarakan arau dilabelkan. Sebab mereka mungkin bingung dengan hal yang dinamakan tabu. Apakah “tabu” di sini mengalami krisis makna? Wkwkwkwk. Aneh kali ya. [Tabu = atau pantangan atau pelarangan social terhadap kata, benda, tindakan, atau orang yang dianggap tidak diinginkan oleh suatu kelompok, budaya, atau masyarakat]

*****

Hal tabu akan menjadi konsentrasi paling utama bagi para judger [apasih sebutannya?] atau sebut saja pelaku judge. Kita pun bisa menjadi satu di antaranya, walau menyadari bahwa kita melakukan tindakan tak tepat untuk orang lainyang menilai dari hal yang kita kira itu tak seharusnya , ini tak seharusnya, dan lain-lain. Terlepas dari benar tau tidak. Karena judge juga bisa menjadi tindakan tebak-tebak tapi tak berhadiah, ya gaes.

Tabu itu menurut saya, sebenarnya adalah hal yang kita tahu ini, itu, tapi belum tentu kita temui faktanya dengan banyak keterkaitan pada bidang pengetahuan. Karenanya tabu adalah hal yang luas. Mereka tercipta dari adanya budaya atau tradisi dari suatu kelompok masyarakat. Dan kita tahu budaya dari masyarakat Indonesia sangat banyak. Dan klaim kebenaran akan hal tersebut tak bisa kita ketahui seyakin 100%. Kok ini jadi serius ya mbahasnya?

Memang serius! Hahahaha……..

Sungguhnya dari sekian banyak cerita di atas mungkin sering sekali kita lakukan. Apalagi pada objek public figure, karena hidup mereka terpampang terlalu banyak dalam mata masyarakat. Jika anda adalah seorang fans dari apapun itu pasti bisa merasakan bahkan terlalu sering melakukan tindakan judgement. Tapi tak semua judgement akan berujung pada hal mengerikan. Hanya saja jika tersampaikan dengan cara yang salah bisa mengakibatkan timbulnya korban. Tapi mereka korban judgement ada yang bisa kuat ada yang tidak. Pelaku judging pun terkadang melabelkan pada orang lain secara tak sadar.

Hubungannya dengan kenal, teman, sahabat, atau pasangan. Porsinya pun masing-masing. Tabu takkan terlepas dari nya. Namun yang perlu disikapi, bahwa tabu perlu dicari, ditemukan, ditentukan karena mereka pengetahuan. Ada yang hanya bisa kita sikapi dengan pikiran sederhana ada pula yang perlu penanganan serius. Karena semua adalah pengetahuan, maka kurangnya pengetahuan bisa menjadikan kita seorang manusia bodoh yang mengatakan berbagai hal mengerikan bahkan menggunakan media social online. Padahal dengan judgment tersebut bisa saja menimbulkan korban. Jadi kita sepakat ya bahwa judgement itu serius santai atau santai serius. Yes! Bijaklah wahai kamu manusia karena kamu sempurna dan berakal. YESS!!!

Ketahuilah yang kau judge-kan belum tentu benar, renungkan, apakah sudah dapat dipastikan positif dan negatifnya? Intinya buatlah porsi 50:50 dalam memikirkan judge-mu terhadap sesuatu itu.

Sedangkan bagi korban judgement. Perihal apa yang kita tuduhkan, simbolkan, labelkan tentu jika tersampaikan tentunya menjadi hal yang serius. Meskipun banyak yang mencoba menutup telinga dan mata pada hal tersebut, tetaplah hal itu menjadi salah satu bingkai hidupnya. Bersikap seperti orang tak bersalah tanpa berpikir positif dari judge negatif sebisa mungkin dihindari.

Terkadang seseorang itu sadar menjadi korban judgement karena ia melanggar apa yang disebut dengan tabu. Ada pula hal tabu yang sebenarnya tidak tabu dalam dasar pengetahuan, tapi tetap saja apa yang diakui masyarakat banyak akan menjadi hakim yang lebih pasti. Dan sesungguhnya sebagai korban ia sendiri ketika menyadari menjadi korban judgment akan menghukum dirinya sendiri. Jadi judgment itu efeknya banyak. Menjudge orang lain, menjudge diri sendiri pun bisa, tetapi judge terhadap diri sendiri lebih banyak mengakibatkan tekanan batin. Ada yang terselesaikan dengan tepat ada pula yang tidak. Oleh karenanya, judgement bisa menjadi hal yang terburuk karena tanpa harus kita menjudge seseorang karena perilakunya yang berbeda dari kebanyakan terkadang orang itu sendiri sesungguhnya telah menghukum dirinya. Melabeli dirinya, menyimbolkan sendiri tetang dirinya. Berapa lama waktu yang ia lalui dengan keadaan ini? Pastinya tak sedalam dan secepatnya kata-kata kita ketika menjudge mereka.

Sudah merasa kesepian karena menghukum diri sendiri, masih saja disepikan oleh sikap judgement. Kesepian mana dan keputusasaan mana yang lebih mengkhawatirkan dari semua itu?

*mendramatisir*

Jangan men-judge orang dengan hal yang semata-mata kamu tahu ini, tahu itu. Lihatlah kepada dirimu karena tak semua orang akan megalami kejadian yang sama. Di sisi lain, belum tentu hal itu, yang kau judge-kan adalah hal yang benar sudah terbukti. Lihatlah dasar pengetahuan lain. Apakah benarmu itu sudah tepat.

Kamu takkan pernah tahu, seberapa besar usaha yang dia lakukan, seberapa besar kecewa yang ia rasakan, seberapa besar kesulitan yang ia harus lalui, yang terpaksa ia lakukan.

Baiknya sebagai manusia dan makhluk sempurna kita lebih baik berbaik sangka daripada berburuk sangka. Memang sadar dan taksadar kita akan melakukan judgement, tapi…. sadarlah seketika dan berpikir 50:50. Sebagai orang yang mempunyai hubungan kenal, teman, sahabat, atau pasangan, tak bisakah kita lebih menjaga perilaku judgement itu sendiri? Atau perlu sebuah pertanyaan, benarkah kamu kenal, teman, sahabat, atau pasangannya?

Karena hidup setiap manusia selalu berbeda. Takkan ada yang sama. Dan takkan ada yang tahu rasanya kaya apa, kecuali dia dan Tuhan. Seperlunya, secukupnya, dan bijaklah.

#####

Okee sekian bincang basa-basi (???) random kali ini. Yang terakhir kali, yuk kembali selesaikan lirik lagu berikut dengan nada yang benar!

#####

Tak ayal tingkah lakumu

Buatku putus asa

Kadang akal sehat ini

Tak cukup membendungnya

Hanya kepedihan

Yang selalu datang menertawakanku

Engkau belahan jiwa

Tega menari indah di atas tangisanku

Mencoba bertahan sekuat hati

Layaknya karang yang dihempas sang ombak

Jalani hidupdalam buai belaka

Serahkan cinta tulus di dalam takdir

Tapi sampai kapankah kuharus

Menanggungnya kutukan cinta ini

Semua kisah pasti ada akhir

Yang harus dilalui

Begitu juga akhir kisah ini

Yakinku indah

Mencoba bertahan sekuat hati

Layaknya karang yang dihempas sang ombak

Jalani hidupdalam buai belaka

Serahkan cinta tulus di dalam takdir

Tapi sampai kapankah kuharus

Menanggungnya kutukan cinta ini

Bersemanyam dalam kalbu

[Ada Band, “Manusia Bodoh”]

Desember, 2018

Selasa, 06 Maret 2012

Terkungkum Adat yang Membawa Nestapa



Hidup adalah untuk mengenal adanya senang dan sedih, bahagia dan sengsara, baik dan buruk, susah dan senang, sama dan berbeda, serta hal lain yang keduanya saling berlawanan (berbeda). Tawaran dalam kehidupan seringkali membuat manusia salah langkah dalam mengambil keputusan baik bagi dirinya sendiri maupun menyangkut orang lain.
Perbedaan seringkali dianggap sebuah hal yang akan merugikan atau mengancurkan, namun tidak sedikit pula yang mengatakan bahwa perbedaan itu indah. Memang semua hal itu akan menjadi indah, baik itu perbedaan atau kekurangan, namun ketika hal itu dilakukan dengan maksud baik. Perbedaan akan menjadi indah jika kita tahu porsinya msing-masing, dalam artian tidak menimbulkan kerugian atau kesusahan bagi orang lain. Namun ketika sebuah perbedaan dijadikan sebagai sesuatu yang menimbulkan keburukan, maka hasilnyapun akan merugikan bagi setiap orangnya.

Cerpen ini mengisahkan tentang kehidupan sebuah keluarga yang dikucilkan oleh warga sekitar akibat adanya perubahan nama oleh sebab silsilah, yakni keluarga Sadru. Musibah beruntun dialaminya setelah mereka mengganti nama menjadi golongan ksatria. Warga menganggap bahwa keluarga Sadru hanya mengada-ngada mengenai hal tersebut, sehingga mereka secara tidak langsung dijatuhi sangsi sosial yang amat kejam oleh warga sekitar. Tetapi Sadru lebih menganggapnya sebagai sebuah karma, tertimpa musibah yang datang secara bertubi-tubi hingga pada kematian ibunya tiba dan jenazahnya ditolak untuk dimakamkan di daerah dimana ia tinggal.
Pada cerpen ini termasuk dalam aliran realis, penulis menghadirkan sebuah gambaran mengenai keadaan masyarakat disebuah daerah yang kental akan hukum adatnya atau kental akan tradisinya. Pada dasarnya cerpen ini sangat minim kaitanya dengan sesuatu yang imaginer. Penulis secara jelas dan gamblang dalam menceritakannya baik realitas alur cerita yang dihadirkan, kondisi masyarakat serta  settingnya. Secara nyata kejadian ini terjadi pada masyarakat di Bali yang benar-benar kental akan adat istiadatnya. Terdapat pula hal yang sama juga terjadi didaerah lain yang juga menganut sistem tradisi yang atau adat yang kental yakni Aceh, daerah-daerah pedalaman Kalimantan dan lain-lain. Hal seperti ini memang nyata adanya, lebih menjunjung tinggi adat yang dibentuk oleh masyarakatnya, daripada sebuah kebudayaan baru sepertihalnya yang dibentuk oleh negara pun (hukum nasional) dapat sesekali dianggap sebagai hal yang buruk.
Mereka mempercayai adanya  sistem kasta dan karma. Bahwa setiap dari mereka yang dilahirkan akan diberikan nama sesuai dengan kastanya sebab kasta yang dianut bersifat turun temurun. Sedangkan karma, dianggap sebagai sebuah balasan akan pelanggaran yang dilakukan oleh seseorang yang menyimpang dari tradisi dan hal ini dianggap sebagai sesuatu yang sakral. Si pelanggar akan mendapatkan sangsi tersendiri menurut norma yang dianut oleh daerah dimana ia tinggal. Sangsi tersebut sesuatu hal yang tertulis maupun tak tertulis.

Jika dijelaskan menurut pendekatan sosiologi sastra maka dalam cerpen ini jelas sekali banyak hal yang diuraikan oleh sang penulis dengan kaitannya dengan kondisi masyarakat disana. Dalam pengkajian karya sastra karya bu Wiyatmi, disebutkan bahwa “sosiologi, mencoba mencari tahu bagaimana masyarakat dimungkinkan, bagaimana ia berlangsung, dan bagaimana ia tetap ada.” Berdasarkan hal tersebut dapat dijelaskan bahwa bagaimana masyarakat dimungkinkan melakukan tindakan tersebut, yakni karena adanya sebuah sistem yang menjadikan masyarakat tersebut berhbungan dengan kondisi menganut sistem kasta, sehingga permasalahan yang terjadi pada keluarga Sadru bisa terjadi. Bagaimana ia berlangsung? Sebab dalam masyarakat Hindhu mereka melakukannya secara turun-mrnurun mengenai sistem kasta sedangkan hal mengenai sangsi yang berupa norma itu merupakan sebuah adat yang dibentuk oleh masyarakatnya sendiri. Dijelaskan oleh bagaimana hal tersebut tetap ada? Karena semua itu dilestarikan dan menjadi hukum adat. Sehingga penulispun mengisahkan tentang tindakan dari aparat kemanan yakni kepolisian, pihak yang berkaitan seperti kepala desa, bupati, maupun tokoh agama sama sekali tidak menhhasilkan perdamaian, karena msyaratnya lebih menjunjung tinggi hukum adat yang berlaku diwilayahnya ketimbang hukum nasional.

Terlihat jelas tujuan dari pembuatan cerita pada cerpen ini, hal yang ingin diungkapkan  yakni bahwa ada bagian dari masyarakat yang begitu menjunjung tinggi sebuah adat yang sesunggunya mengganggu atau menghilangkan sebagian bahkan banyak hak-hak seseorang tersebut. Kepercayaan yang dianut tidak seharunya dijalankan jika ternyata berdampak sangat buruk. Selain itu, sesungguhnya ia ingin mengungkapkan tentang adanya sesuatu yang harus diubah yakni adanya sistem kasta yang mengikat keturunan-keturunannya. Hal ini tidak seharunya dilestarikan. Pemerintah telah melarang adanya sistem kasta di Indonesia, namun tetap saja tradisi ini mengakar hingga kini. Kemudian kaitanya dengan mengapa Komang Adnyana sangat paham tentang hal ini? Sebab ia sendiri memang berasal dari wilayah yang sama yakni Bali, sehingga ia tahu betul sedikit banyak mengenai keadaan masyarakat yang ada disana. Lalu pesan moral yang hendak diungkapkan dalam cerpen ini adalah perlu dihilangkannya sistem kasta dan hukum adat yang keterlaluan, sehingga tidak akan ada lagi sebuah perbedaan yang menyebabkan orang lain dirugikan. Seharusnya setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk hidup dan menikmati hidupnya.

Kesimpulan dari inti kritik sastra terhadap cerpen “Mayat di Simpang Jalan” ini adalah tidak seharunya perbedaan menjadikan kita saling bermusuhan bahkan menimbulkan kebencian yang mendalam, tetapi alangkah baiknya jika saling membantu dan menghargai adanya sebuah perbedaan tanpa harus melukai satu sama lain. Segala sesuatunya harus dibedakan mengenai mana hal yang baik untuk dilestarikan dan dijadikan pedoman serta hal mana yang buruk sehingga perlu dihilangkan atau diperbaiki.

 (Kritik Sastra pada cerpen “Mayat di Simpang Jalan” karya Komang Adnyana melalui pendekatan sosiologi sastra)