Bacalah kutipan berikut menggunakan nada yang tepat!
Dahulu terasa indah
Tak ingin lupakan
Bermesraan selalu jadi
Satu kenangan manis
Tiada yang salah
Hanya aku manusia bodoh
Yang biarkan semua ini permainkanku
Berulang-ulang kali
Mencoba bertahan sekuat hati
Layaknya karang yang dihempas sang ombak
Jalani hidupdalam buai belaka
Serahkan cinta tulus di dalam takdir
[Ada Band, “Manusia Bodoh”]
Benar nggak sih lirik lagu di atas? Benar nggak sih kalau lirik itu benar terjadi? Benar nggak? Pernah merasakan? Pernah melihat yang seperti itu?
Kalau kita berbincang soal lagu, banyak yang dialaskan oleh sang penulis bahwa lirik yang tercipta berasal dari pengalaman dan tak banyak pula yang mengalaminya sendiri atau sekadar mendapat kisah cuma-cuma dari orang lain. Tidak sedikit pula yang meraba lirik dari membayangkan sebuah kisah melalui film, drama, atau pentas. Jadi kalau kita simpulkan lirik di atas bisa sekali dialami oleh seseorang, meskipun tak banyak, tapi bisa saja untuk dialami.
Manusia bodoh. Hemmm…..hemmmmm…..hemmmmmmmm. Mana ada yang mau disebut manusia bodoh atau menyebut diri sendiri sebagai manusia bodoh. Iyakan ya? Masa iya mau merendahkan diri sendiri? Mungkin dalam lirik itu penulis mau menggambarkan rasa seseorang yang terkadang menjadi seperti manusia yang bodoh. Namanya saja perasaan ya.
*****
“Manusia adalah makhluk sempurna.”
Manusia dalah makhluk sepurna. Karenanya banyak yang tampan dan cantik. Ada pula yang pintar dan kurang pintar. Kita pakai kata kurang pintar ya, jangan bodoh. Kenapa? Karena bodoh itu berarti tak mengerti apapun. Sedangkan kurang pintar itu hanya kurang usaha saja dalam menuju kepintaran. Bukan minteri ya. Beda lagi nanti. Duh ini kenapa macam ribet sama kosa kata ya. [Minteri = membuat orang lain merasa berpengetahuan rendah/mempermainkan orang lain dengan memanfaatkan sesuatu yang ada pada diri orang tersebut]
Benar!
Benar sih! Miscommunication terjadi karena kita sendiri selalu menyepelekan dalam berbahasa. [Miscommunication = kesalahpahaman dalam berkomunikasi]
Fenomena miscommunication kadang lebih disalahkan karena media yang digunakan. Padahal tidak semata itu merupakan kesalahan media. Kenapan media yang notabenenya hanya fasilitas? Sedangkan yang membuat salah adalah isinya! Siapa yang nulis isinya? Ya dirimu, dirinya, atau mereka. Oleh karenanya pantaslah banyak orang mengatakan bijaklah dalam menggunakan media. Apalagi media sosial. Karena kita hidup di eranya saat ini dan mana mungkin aka nada orang yang mengatakan bijaklah dalam menggunakan surat apalagi kantor pos. Iya kan?
Well… begitulah kita, manusia yang mudah menyalahkan, maka disebut orang tak baik atau jahat. Oke! Versi jahat itu juga macam-macam kan! Karena baik dan jahat adalah kata sifat merujuknya pada opini. Ssstttt…!!! Ini bukan pelajaran, tenang! [Kata Sifat = semua kata yang bisa diperluas dengan kata benda]
Jahat versi saya belum tentu sama seperti versi anda, satu kata tapi kriterianya berbeda. Jadi kata ini banyak menimbulkan spekulasi. Karena masih berupa opini. Sok serius deh ini ya! Wkwkwkwk [adalah “hahahahaha” bagi sebagian besar orang Indonesia]
*****
Balik lagi, berarti manusia bisa menjadi apapun tergantung dia bertindak dan berperilaku, maka dari itu dapat disebut dengan berbagai pula label dan simbol. Dengan banyaknya tingkah ini, ya bolehlah dan lumayan cukuplah sebagai dasar bahwa manusia itu sempurna. Sempurna menjudge diri sendiri maupun orang lain? Ingat! semua ini pakai akal. Inilah yang membedakan manusia dengan yang lain. Dan dikatakan sempurna. Karena makhluk lain di dunia tidak memilikinya.
*****
Sebagai manusia yang hidup dan merasakan era globalisasi yang didalamnya tentunya perkembangan teknologi takkan tertinggal, kita akan sering bahkan selalu bisa mengenal orang lain melaluinya.
Dari situ nanti akan terjalin sebuah hubungan.
Ketika bersama dengan teman, sahabat, bahkan pasangan tentunya mereka punya tempat masing-masing. Bersama teman, sahabat, bahkan pasangan akan terjalin pula dalam kenyataan dan maya. Sayangnya jika maya sulit akan menjadi seorang sahabat dekat bahkan pasangan. Bisa! Tapi mungkin akan melalui berbagai tahap yang sulit. Sulit, bukan pada perilakunya tetapi wujud kepercayaan. Karena maya tidak terlihat nyatanya. Sehingga fakta menjadi hal utama dan prioritas.
Okee, berkaitan dengan era globalisasi dan teknologi serta media sosial dengan hubungan. Sering kali munculah berbagai macam masalah karena maya adalah bukan nyata. Jelas banget ini ya gaes.
Apasih kok jadi panjang ini mbahasnya………….! Sorry
Intinya kali ini pingin bahas soal judgement terhadap seseorang.
Tapi kaitannya sama hubungan yaitu teman, sahabat, dan pasangan. Di atas tadi sudah banyak serba serbi soal manusia yang bodoh, manusia yang sempurna makannya jangan sampai jadi bodoh! Karena kamu kalau memang manusia yang harusnya sempurna [bismillah] [hehehe], dan judgement terhadap manusia melalui kata sifat.
Sebenarnya banyak yang bahas, tapi mungkin saya juga ingin bahas dari sudut yang saya tau, saya rasa, dan banyak sekali saya lalui bersamanya [???]
####
Dalam bersosialisasi [meskipun kita dalam lingku[ nyata dan maya] tentunya akan mengenal kata kenal, teman, sahabat, bahkan pasangan. Dan dalam era globalisasi kita akan mengenal media sosial, terutama online. Manusia sebagai makhluk sempurna yang tentunya memiliki akal pasti akan selalu mengikuti perkembangan zaman, terlebih di era ini.
Di media sosial online, sering kali kita mengomentari hidup orang dengan apa yang kita lihat dalam pajangan foto, gambar, suara, dan sejenisnya. Ketika seorang itu dikenal maka kita akan terlalu memikirkannya. Jika hanya sekadar lalu, maka akan membuat kita mengaguminya. Kagum itu tidak selalu berujung manis ya gaes. Hanya saja ada sesuatu yang menjadikan kita mengingatnya, sebutlah seperti itu. Dikasus lain hal tersebut justru berubah menjadi perilaku mengidolakan. Katakanlah perilaku, fashion, bahkan kebiasaan kita akan condong padanya. Bahkan bisa saja bahasa kita juga terpengaruh karena adanya sikap mencontek, mencontoh, dan mengikuti karena sikap mengagumi ini.
Ada sebuah peristiwa, ketika kita melihat seseorang yang dengan sangat terang menunjukkan hidup pribadi, yang melibatkan emosionalnya, dan kita mengenalnya, ada 3 kemungkinan yang mungkin dilakukan: kita bersikap cukup tau saja,merasa ilfeel, atau judgement. Tapi tenang, jika mereka menjalin hubungan serius, dekat, maka yang pertama adalah jawabannya. Ilfeel itu jarang ditemukan. Ia muncul ketika sesuatu yang kita amati itu terlalu sering dan berulang tanpa titik temu dan tujuanya sebenarnya apa? Kebanyakan karena orang pada umunya memang tak menyukainya, tapi tak sedikit pula yang berangkat dari perasaan *kriteria* personal. Tak ada yang bisa disalahkan atau dibenarkan.
Sedangkan Judgment bisa dikatakan sebagai perasaan pribadi juga, tetapi lebih sering berakar dari emosi seseorang. Karena melibatkan emosi tentunya efeknya lebih besar,bagi yang melakukan atau dikenai tindakan. [bahasa saya, hemmm.. nggak papa ya. Tapi tahu kan ya maksudnya?] [Ilfeel = merasa tidak menyukai perilaku seseorang]
Jika melihat ketiganya, dan tren yang berjalan saat ini, Judgement akan adalah hal yang serius sekali. Kenapa? Jika kita ketahui lebih lagi, judgment itu lebih sering terjadi karena kita mengakui tabu bagi orang yang tidak kita kenal sebagai hal biasa. Namun, ketika kita lihat di sekitar kita atau yang tak terlalu dekat pun asal tahu dalam dunia nyata, kata kata seperti judging buruk akan tetap diutarakan arau dilabelkan. Sebab mereka mungkin bingung dengan hal yang dinamakan tabu. Apakah “tabu” di sini mengalami krisis makna? Wkwkwkwk. Aneh kali ya. [Tabu = atau pantangan atau pelarangan social terhadap kata, benda, tindakan, atau orang yang dianggap tidak diinginkan oleh suatu kelompok, budaya, atau masyarakat]
*****
Hal tabu akan menjadi konsentrasi paling utama bagi para judger [apasih sebutannya?] atau sebut saja pelaku judge. Kita pun bisa menjadi satu di antaranya, walau menyadari bahwa kita melakukan tindakan tak tepat untuk orang lainyang menilai dari hal yang kita kira itu tak seharusnya , ini tak seharusnya, dan lain-lain. Terlepas dari benar tau tidak. Karena judge juga bisa menjadi tindakan tebak-tebak tapi tak berhadiah, ya gaes.
Tabu itu menurut saya, sebenarnya adalah hal yang kita tahu ini, itu, tapi belum tentu kita temui faktanya dengan banyak keterkaitan pada bidang pengetahuan. Karenanya tabu adalah hal yang luas. Mereka tercipta dari adanya budaya atau tradisi dari suatu kelompok masyarakat. Dan kita tahu budaya dari masyarakat Indonesia sangat banyak. Dan klaim kebenaran akan hal tersebut tak bisa kita ketahui seyakin 100%. Kok ini jadi serius ya mbahasnya?
Memang serius! Hahahaha……..
Sungguhnya dari sekian banyak cerita di atas mungkin sering sekali kita lakukan. Apalagi pada objek public figure, karena hidup mereka terpampang terlalu banyak dalam mata masyarakat. Jika anda adalah seorang fans dari apapun itu pasti bisa merasakan bahkan terlalu sering melakukan tindakan judgement. Tapi tak semua judgement akan berujung pada hal mengerikan. Hanya saja jika tersampaikan dengan cara yang salah bisa mengakibatkan timbulnya korban. Tapi mereka korban judgement ada yang bisa kuat ada yang tidak. Pelaku judging pun terkadang melabelkan pada orang lain secara tak sadar.
Hubungannya dengan kenal, teman, sahabat, atau pasangan. Porsinya pun masing-masing. Tabu takkan terlepas dari nya. Namun yang perlu disikapi, bahwa tabu perlu dicari, ditemukan, ditentukan karena mereka pengetahuan. Ada yang hanya bisa kita sikapi dengan pikiran sederhana ada pula yang perlu penanganan serius. Karena semua adalah pengetahuan, maka kurangnya pengetahuan bisa menjadikan kita seorang manusia bodoh yang mengatakan berbagai hal mengerikan bahkan menggunakan media social online. Padahal dengan judgment tersebut bisa saja menimbulkan korban. Jadi kita sepakat ya bahwa judgement itu serius santai atau santai serius. Yes! Bijaklah wahai kamu manusia karena kamu sempurna dan berakal. YESS!!!
Ketahuilah yang kau judge-kan belum tentu benar, renungkan, apakah sudah dapat dipastikan positif dan negatifnya? Intinya buatlah porsi 50:50 dalam memikirkan judge-mu terhadap sesuatu itu.
Sedangkan bagi korban judgement. Perihal apa yang kita tuduhkan, simbolkan, labelkan tentu jika tersampaikan tentunya menjadi hal yang serius. Meskipun banyak yang mencoba menutup telinga dan mata pada hal tersebut, tetaplah hal itu menjadi salah satu bingkai hidupnya. Bersikap seperti orang tak bersalah tanpa berpikir positif dari judge negatif sebisa mungkin dihindari.
Terkadang seseorang itu sadar menjadi korban judgement karena ia melanggar apa yang disebut dengan tabu. Ada pula hal tabu yang sebenarnya tidak tabu dalam dasar pengetahuan, tapi tetap saja apa yang diakui masyarakat banyak akan menjadi hakim yang lebih pasti. Dan sesungguhnya sebagai korban ia sendiri ketika menyadari menjadi korban judgment akan menghukum dirinya sendiri. Jadi judgment itu efeknya banyak. Menjudge orang lain, menjudge diri sendiri pun bisa, tetapi judge terhadap diri sendiri lebih banyak mengakibatkan tekanan batin. Ada yang terselesaikan dengan tepat ada pula yang tidak. Oleh karenanya, judgement bisa menjadi hal yang terburuk karena tanpa harus kita menjudge seseorang karena perilakunya yang berbeda dari kebanyakan terkadang orang itu sendiri sesungguhnya telah menghukum dirinya. Melabeli dirinya, menyimbolkan sendiri tetang dirinya. Berapa lama waktu yang ia lalui dengan keadaan ini? Pastinya tak sedalam dan secepatnya kata-kata kita ketika menjudge mereka.
Sudah merasa kesepian karena menghukum diri sendiri, masih saja disepikan oleh sikap judgement. Kesepian mana dan keputusasaan mana yang lebih mengkhawatirkan dari semua itu?
*mendramatisir*
Jangan men-judge orang dengan hal yang semata-mata kamu tahu ini, tahu itu. Lihatlah kepada dirimu karena tak semua orang akan megalami kejadian yang sama. Di sisi lain, belum tentu hal itu, yang kau judge-kan adalah hal yang benar sudah terbukti. Lihatlah dasar pengetahuan lain. Apakah benarmu itu sudah tepat.
Kamu takkan pernah tahu, seberapa besar usaha yang dia lakukan, seberapa besar kecewa yang ia rasakan, seberapa besar kesulitan yang ia harus lalui, yang terpaksa ia lakukan.
Baiknya sebagai manusia dan makhluk sempurna kita lebih baik berbaik sangka daripada berburuk sangka. Memang sadar dan taksadar kita akan melakukan judgement, tapi…. sadarlah seketika dan berpikir 50:50. Sebagai orang yang mempunyai hubungan kenal, teman, sahabat, atau pasangan, tak bisakah kita lebih menjaga perilaku judgement itu sendiri? Atau perlu sebuah pertanyaan, benarkah kamu kenal, teman, sahabat, atau pasangannya?
Karena hidup setiap manusia selalu berbeda. Takkan ada yang sama. Dan takkan ada yang tahu rasanya kaya apa, kecuali dia dan Tuhan. Seperlunya, secukupnya, dan bijaklah.
#####
Okee sekian bincang basa-basi (???) random kali ini. Yang terakhir kali, yuk kembali selesaikan lirik lagu berikut dengan nada yang benar!
#####
Tak ayal tingkah lakumu
Buatku putus asa
Kadang akal sehat ini
Tak cukup membendungnya
Hanya kepedihan
Yang selalu datang menertawakanku
Engkau belahan jiwa
Tega menari indah di atas tangisanku
Mencoba bertahan sekuat hati
Layaknya karang yang dihempas sang ombak
Jalani hidupdalam buai belaka
Serahkan cinta tulus di dalam takdir
Tapi sampai kapankah kuharus
Menanggungnya kutukan cinta ini
Semua kisah pasti ada akhir
Yang harus dilalui
Begitu juga akhir kisah ini
Yakinku indah
Mencoba bertahan sekuat hati
Layaknya karang yang dihempas sang ombak
Jalani hidupdalam buai belaka
Serahkan cinta tulus di dalam takdir
Tapi sampai kapankah kuharus
Menanggungnya kutukan cinta ini
Bersemanyam dalam kalbu
[Ada Band, “Manusia Bodoh”]
Desember, 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar