Senin, 13 April 2020

MENGENANG WAKTU PADA CINTA TAK PERNAH TEPAT WAKTU






Judul                         : Cinta Tak Pernah Tepat Waktu

Penulis                      : Phutut EA

Penerbit                    : Buku Mojok

Tahun Terbit          : 2019, Edisi Revisi


Buku Cinta Tak Pernah Tepat Waktu ini telah mengalami delapan kali pencetakkan dari 2005-2019. Cinta Tak Pernah Tepat Waktu telah menjadi novel Best Seller.
Mengenang adalah kegiatan yang aneh. Sebagian dari mereka akan suka untuk mengulang-ulang peristiwa yang sudah lewat. Kenangan itu dapat berupa menyenangkan maupun menyedihkan. Hal yang menyedihkan belum tentu diterima dengan rasa yang sama, sedangkan kenangan bahagia akan sama.

Diceritakan seorang tokoh yang disebut sebagai si “dia” mengalami sebuah penyakit. Setiap waktu yang telah berlalu membuat penyakitnya semakin parah saja. Waktu-waktu itu mengacu pada hati dan pikirannya yang tidak lain adalah rasa dan cinta. Saking hampir gilanya, ia memilih untuk menjauhi siapapun yang pernah berjumpa dengannya pada masa lalu. Ia menghukum dirinya. Dia mulai menjauhi masa lalu bahkan kedua orang tuanya. Untuk masa lalunya, ia mencoba sebisa mungkin mengubur dalam-dalam dengan minum bir atau melakukan banyak hal agar lekas lelah dan hari berganti. Untuk orang tuanya, ia mencoba menjauhi segala bentuk pertanyaan, kapan kamu menikah?

Telah berkali-kali ia dihujani dengan rasa sakit karena mencintai seorang wanita. Kejadian awal yang membuatnya menjadi seorang pesakit pada tiap waktu yakni ketika menjadi seorang aktivis. Jiwa pantang menyerah yang ada dalam dirinya membuatnya memperjuangkan cintanya meskipun ditolak berkali-kali. Namun, waktu yang tak tepat membuatnya harus berpisah. Semenjak itulah, waktu dan jatuh hati membuatnya menjadi seorang pesakit. 

Imbas dari peristiwa itu, ia menjadi seorang kelelawar. Pagi adalah malam, malam adalah pagi. Sarapan di saat siang, membeli koran pagi pada siang hari, dan akitivitas lain yang berujung pada dini hari untuk terlelap. Ia berusaha menghindari orang-orang dengan mematikan segala akses untuk berhubungan dengannya. Lengkap sudah pertahanan dirinya, tetapi itu tak membuatnya sembuh.

Berkali dia jatuh hati, berkali pula ia kalah. Beberapa di antaranya ditinggal menikah, ditolak karena orang tua, ketidakyakinan akan diri sendiri karena kenangan akan kegagalan menjalin cinta, dan yang terakhir adalah menerima kekalahan. Kalah karena waktu telah berlalu dan dia memahaminya. Ya, sudahlah. Dia kalah sebelum berperang.

Sebelum mengalami kisah cinta terakhir, dia telah berdamai dengan segala macam kesakitan yang pernah dijalaninya. Ia memulai pada hidup sebagai manusia baru. Berkat bantuan kawan seperjuangan, ia bangkit. Melalui perjalanan dan pengobatan panjang itulah akhirnya ia mampu merasakan kembali jatuh cinta yang tidak membuatnya sakit. Seorang kawan berkata, "Jangan dahulu kamu membuka hati, jika sakitmu belum jua sembuh! Kau harus menyembuhkan lukamu dahulu barulah menerima cinta yang sesungguhnya." 

Pada kisah terakhir bersama seorang perempuan bernama palsu Kenan, ia pun memulai hidup yang baru. Dia menerima sakit kembali, tapi hal itu tak begitu melukainya. Berkat pepristiwa itu, ia mulai rajin menjalani pengobatan untuk sembuh.

Merasakan jatuh cinta itu tak salah. Waktumu yang gagal dan kenangan masa lalu yang menyakitkan bukanlah akhir dari segalanya. Bisa saja, ia adalah pijakan baru dalam hidupmu yang mampu mengantarmu pada kehidupan yang lebih baik. Jangan hukum dirimu karena hal yang telah berlalu, tapi belajarlah menerima segala hal yang terjadi. Semua yang terjadi hanyalah hal yang tak pernah tepat pada waktunya saja, tidak lebih.

Bagi pembaca yang sudah terbiasa dengan Phutut tentunya akan akrab dengan  tema cinta. Ya, beliau banyak membuat karya dengan tema cinta. Cinta yang ia hadirkan adalah tentang kehidupan secara luas. Ia tak melulu membahas soal rasa yang sempit antara dua manusia.

Penggambaran tokoh dalam novel ini sangat menarik. Pemusatan pada tokoh “aku” dan “dia” yangmana adalah satu orang ini membuat kita terhanyut. Pasalnya, ia sangat dekat dengan kita atau pembaca. Semua intrinsik yang digunakan dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karenanya, peristiwa yang tergambar akanmudah kita terima.

Bagi sebagian pembaca unsur gambar akan sangat membawa kesejukan tersendiri dalam sebuah buku yang bersifat karya sastra. Akan tetapi, hal itu tak dapat ditemukan dalam novel ini. Satu buku lengkap berisi tulisan saja tanpa ilustrasi, tetapi runtut dan lengkap serta jeli dalam pemilihan kata. Kata-kata inilah yang mampu membuat pembaca memahami karakter dari masing-masing tokoh.

Pada novel ini lebih banyak penguatan karakter daripada sekadar alur dan isi cerita. Bisa dikatakan, karakter tokoh membuat alur cerita berjalan.

Nah, seru bukan isinya? Buat yang penasaran , buruan beli bukunya! Dijamin tak akan menyesal! Kapan lagi kamu bisa membaca sebuah kisah yang dekat dengan hidupmu? Kapan lagi kamu akan memahami rasamu yang juga dialami oleh si tokoh? Bagaimana reaksimu jika ternyata “dia” dalam buku ini adalah kamu? Penasaran bukan?

Sekian review tentang novel Phutut EA, Cinta Tak Pernah Tepat Waktu. Semoga bermanfaat. Yuk baca buku lagi!


1 komentar:

  1. 1xbet korean online sports betting 1xbet korean
    online sports betting with a 1xbet live huge range of markets and promotions In terms of betting on soccer and basketball, you can

    BalasHapus