Pernah nggak sih kamu dapat pertanyaan cinta atau persahabatan? Kamu pernah jatuh cinta nggak? Cinta itu ada nggak sih cuy?
Basi yah sebenenya kalo aku mau ngomongin tentang ini. Yaah sebagian dari kita akan muak kalo membahas tentang cinta tapi ada juga yang tergila gila dengan topic tentang cinta khususnya remaja yang sedari esde atau esempe di zaman milenial gini. Aku nggak tau sebenernya apa yang terjadi sama anak zaman sekarang. Sedikit cerita deh zaman aku dulu esde jujur cinta aja mungkin kata yang nggak pernah ada di kepalaku. Esde itu masa anak-anak yang cukup menyenangkan dan mulai belajar untuk berkompetisi karena kamu harus dapet nilai bagus supaya bisa sekolah lagi (naik kelas). Dulu karena aku kids zaman dulu yang masih ngalamin tes pakai jadwal caturwulan-an. Setiap caturwulan itu pasti ada tes. Beruntungnya aku karena ternyata dulu termasuk tipe serius yang belajar aja harus dikelilingin buku-buku buat dibaca dan Alhamdulillah ada hasilnya. Curhat dikit gapapa ya*
Okee, lanjut soal cinta dan masa anak-anak saat esde, mengingatkan aku tentang saat di mana waktu kelas 4 esde dapat surat. Dulu istilah surat cinta nggak begitu hits. Padahal sekarang juga enggak ya, Cuma dulu surat begitu cuma disebut sebagai surat-suratan. Jadi, ketika itu ntah saking polosnya aku ketika dapat surat cinta *istilahnya begitu* bukannya seneng atau gimana gitu, malah dengan pedenya aku baca di depan kelas. Tanpa rasa bersalah sama yang mengirimkan surat kubacakan saja. Wah itu bener nggak bakal kepikiran dan terjadi pada zaman sekarang. Dan kisah itu berlalu begitu saja. Saat di mana lari-lari habis pulang sekolah nonton orang dikuburin karena tiap pulang sekolah selalu ngelewatin makam dan dengan jiwa anak-anak tanpa rasa takut kita selalu nonton kalau pas ada pemakaman dan setelahnya akan lari lewat pematang sawah. Itu hal yang nggak bakan tergantikan. Jadi, kita bisa lihat bedanya anak esde mengartikan cinta dan sahabat kaya apa pasti jauh sekali sama zaman dulu. Persahabatan zaman dulu udah kaya sodara. Dari ngejek sampai seneng itu hal yang cukup untuk dikenang. Kalau sekarang? Bisa jadi sahabat adalah saingan yang nggak bakalan ada kata aku mengalah atau ayok saingan sehat. Buktinya viral dimedia sosial soal anak esde yang seumurannya seharusnya menikmati cinta dan persahabatan dalam arti harfiah, justru jadi salah kaprah. Inilah cinta versi zaman esde.
Beda lagi sama esempe, tentunya lebih pingin cari tahu tentang apasih itu cinta? Kalau anak zaman sekarang mungkin akan mengartikan sebagai kesetiaan, kalau zaman dulu hanya kisah manis. Simpelnya gitu kalinya. Begtiupun esema.
Banyak yang semakin serius menanggapi soal cinta. Jujur saya sendiri sampai kuliah menemukan kata-kata dan membuat konsep bahwa cinta itu nggak ada. Padahal saya nggak pernah jatuh cinta atau patah hati. Kini hampir tiga tahun mengalami banyak kisah tiba-tiba mulai merasakan cinta. Bagi saya rumitnya minta ampun, mending nyelesein logaritma yang bahkan saat SMA harus ikut remedial dan lolos dari batas tuntas. Dan karenanya itu mengubah hidup saya.
Okee, back to LOVE IS’T ALWAYS L-O-V-E
Ada sebuah kutipan dalam drama korea favorit saya, kurang lebih begini
“ Cinta pertama adalah mengagumi; Cinta kedua adalah menggenggamnya; dan Cinta ketiga adalah penyesalan dan keikhlasan”
Habis mendengarkan kalimat-kalimat itu saya jadi teringat banyak kejadian. Bagi saya cinta dan sayang itu beda, cinta nggak pernah abadi, dan kasih sayang adalah segalanya.
“Mengagumi bagai setiap hari adalah perjuangan serta hidup bahagia”
“Menggengam seolah meletakkan kepercayaan dan keyakinan”
“Penyesalan dan keihlasan layaknya ketidakrelaan akan banyak hal”
“Mereka semua sama”
Hal ini menjadi bagian egois dan keras kepalaku pada hal yang disebut dengan cinta.
Aku selalu percaya bahwa cinta itu mustahil, ia hanya bentuk dari kebanggaan hati pada suatu hal. Namun, ketika aku menggenggamnya maka aku menyerah untuk melepaskannya. Cinta akan selalu pergi kapanpun dia mau.
Dari beberapa kisah yang aku alami, ternyata keras kepalaku banyak buktinya, bahkan seolah ia mencercaku.
“Dunia ini hanya butuh kasih dan sayang, tak butuh cinta”
Sekali lagi aku tegasin bahwa menggagumi, menggenggam kemudian menyesal dan ikhlas takkan pernah ada dalam kata sayang. Ia berharga lebih dari apapun.
Ada sebuah kisah, ketika itu saya diperdengarkan oleh orang lain. Bukan bermaksud menggunjing bahkan mengubrak-abrik puzzle hidup orang. Saya yakin setiap orang punya hikmah tersendiri hidup di dunia ini.
Seperti kata Cho Jung Chi, penyanyi korea, kebetulan belum lama nonton acara varietynya sebagai ayah dari gadis imut dengan panggilan “Eun”, ia mengatakan bahwa jatuh cinta pada anak pertamanya sejak lahir, lakukan yang terbaik agar dia menjadi hal yang baik karena bagaimanapun dia adalah bagian dari kehidupan ini.
Dalam hidup intinya berlaku yang baik.
Okee, balik lagi.
Definisi cinta macam-macam bahkan sayangpun begitu. Dikisahkan bahwa ia hidup bersama laki-laki dan kemudian mempunyai dua nak yang gagah. Awalnya ak hanya melihatnya sebagai pekerja keras yang menjalankan hidupnya dengan hobi. Karena ketika ia bekerja hasilnya lebih dari cukup. Sedang ia memperpanjang waktunya untuk selalu berepot-repot ria di luar kewajiban “kerjanya” apalagi kalo bukan hobi? Dan tentunya ia tak mencari sekadar uang.
Kemudian karena suatu hal ia menjadi tulang punggung. Siapa yang sangka? Tak ada yang tau awalnya seperti apa. Sampai akhirnya dia bercerita sendiri. Saya nggak mau mengorek hidup orang lain masalah orang lain jika tidak karena orang lain ini ikhlas bercerita sendiri.
Ia mengisahkan hidupnya. Ternyata bukan karena hobi ia menjalaninya. Melainkan karena kasih dan sayangnya bagi satu-satunya lelaki yang merupakan letak surganya.
Saya terharu seketika, mengapa? Ia tak butuh cinta walau punya cinta, setidaknya dari kedua anak laki-lakinya. Terbukti dengan tak pernah ia merasakan hidupnya sebagai beban. Ia hanya berkata. Beginilah saya hidup, saya selalu membawa mereka kemanapun mimpi dan jalan saya berada. Ia tak pernah mengeluh. Walau cukup, tetap saja. Ini sesungguhnya bukan kewajibannya. Tapi keadaan menjadikannya wajib seperti ini.
Kau tau? Hidupnya adalah hikmah untuk orang lain. Dan kasih sayang memang lebih ikhlas bahkan lebih besar dari sekadar ikhlas. Cinta? Silahkan definisikan sendiri.
Begitulah keras kepalaku kutanamkan kembali. Merasakan cinta terlalu berat bagi saya bahkan menyakitkan, memang pahit hidup dan perasaan tidak ada yang tahu. Yang tau kamu, siap dan bisa melalui hidup adalah diri sendiri. Dan saya tau letak hidup saya dibagian mana.
Okee, sekian ulasan saya tentang CINTA. Kini saya percaya soal CINTA tapi ia bukan sekadar hal yang utama dalam hidup saya. Bagi saya CINTA hanya bagian dari hidup, kau boleh sebut itu anaugerah. Tetapi tetap saja, hidup bukan sekadar soal CINTA, ada hal lain yang lebih besar dari sekadar itu.
Saya tulis tema ini kebetulan saya sedang berbulan-bulan patah hati, saya mencari cara agar hidup saya kembali normal. Saya tidak mau merusak hidup saya hanya karena CINTA dan patah hati karenanya. Jadi, karenanya saya ingat soal keras kepala saya dan kisah-kisah lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar