Senin, 19 Maret 2012

LA BARKA (LAGI, MENGENAI KETIDAK ADILAN BAGI PEREMPUAN)


La Barka adalah tempat terjadinya berbagai peristiwa yang kemudian dituliskan dalam buku harian Rina, yang kini tak hanya berisi mengenai isi hatinya saja namun juga mengenai perkenalannya dengan beberapa orang yang dianggap sebagai teman oleh sang sahabat Monique.

Buku La Barka mengisahkan tentang berbagai masalah perempuan, dari pembagian kerja secara seksual, cinta segitiga serta sosial-kultural dalam suatu perkawinan campuran. Keterkaitan unsur feminisme dalam novel ini sangat kuat yang diangkat melalui berbagai permasalahan yang timbul dalam cerita-cerita yang ditulis dalam novel tersebut. Adanya budaya patriarki (Patriarchal Power) menjadikan wanita dijadikan sebagai kasta ke dua, sedang kekuasaan seutuhnya berada ditangan kaum lelaki.

Rina yang tumbuh dalam sebuah yayasan yatim piatu, kini sedang menjalani proses perceraian dengan suaminya yang berkebangsaan perancis karena kehadiran sang anak ditengah kehidupan rumah tangga mereka. Dalam masa menunggu proses perceraian itulah, Rina berkunjung ke tempat sahabatnya, Monique di La Barka, Perancis Selatan. Di sinilah awal terjadinya berbagai peristiwa tersebut.

Muncul dari berbagai tokoh dengan berbagai cerita. Ia dikenalkan pada teman-teman Monique, awalnya sepasang suami istri bernama René dan Francaises, mereka adalah keluarga yang pada akhirnya mengalami kegagalan pernikahan karena dalam 15 tahun perkawinannya tak kunjung mempunyai anak, sedang sang suami teramat menginginkan kehadiran seorang anak ditengah keluarga mereka. Kemudian, Sophie seorang wanita cantik. Ia adalah sahabat yang paling disayang oleh Monique, namun pada akhir cerita, ternyata ia seorang wanita yang tidak tahu terima kasih. Setelah perselingkuhannya dari sang tunangan yang sangat royal terhadapnya terbongkar, Ia menyebarkan banyak fitnah tentang La Barka yang dikatakanya sebuah tempat perselingkuhan yang aman. Setelah itu, Jennié seorang wanita yang menggilai harta serta pria kaya, dan berakhir perkenalannya dengan Christine beserta ketiga anaknya, yang mana salah satunya bernama Robert, seorang yang usianya lebih muda darinya 10 tahun, namun ia sangat mencintai Rina dan ia adalah lelaki yang pintar dan mampu memikat serta meyakinkannya untuk membina hubungan yang serius.

Buku-buku ini dicetak berulang kali karena berbagai pihak memberikan respon yang baik, walaupun terdapat pro dan kontra dari novel tersebut. Pendapat kritikus sastra banyak berpendapat serta merespon dengan baik karya ini, sebab novel tersebut mengekspresikan pengalaman dan pemahaman menyeluruh tentang kehidupan.

Seperti halnya karya sastra lain yang juga menekankan mengenai pemasalahan perempuan dari Siti Nurbaya hingga Novel Habis Gelap Terbitlah Terang karya Kartini. Di sini karya sastra tersebut berbicara mengenai perampasan hak-hak perempuan, yangmana semuanya telah diatur oleh para kaum pria.

Peraih penghargaan SEA Write Award di bidang sastra dari Pemerintah Thailand ini telah aktif menulis sejak SMA, hingga kini karya yang ia telah mencapai sebanyak 20 buah novel dan karena itulah ia dicap sebagai sastrawan di Indonesia. Padahal ia sendiri mengaku hanyalah seorang pengarang yang menuangkan realita kehidupan, pengalaman pribadi, dan kepekaan terhadap lingkungan ke dalam setiap tulisannya. Ia digelari pengarang sastra feminis karena dalam setiap karya yang ia buat, semuanya bertolak dari sebuah permasalahan tentang perempuan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar