Kebahasaan
merupakan hal-hal yang berkaitan dengan perihal bahasa. Berikut akan dijelaskan
perihal tentang kebahasaan yang digunakan dalam pantun, gurindam, dan syair.
a. Kalimat Perintah
Kalimat
yang memiliki makna memerintah atau menyuruh. Ciri dari kalimat perintah adalah
adanya kata perintah. Kata perintah yaitu semua kata dasar yang diikuti dengan
imbuhan –lah dan –kan.
Contoh:
Kata
dasar: Dengar
Imbuhan:
-kan
Kata
perintah: Dengarkan (bermakna memerintah)
-
Dengarkan tuan ayahanda
berperi
Kepada
anakanda muda bestari
(Kutipan
Syair Pesan Ayahanda)
b. Kalimat Saran
Kalimat
yang berisi kata dengan makna memberikan saran atau himbauan demi kebaikan
orang lain. Beberapa kata yang termasuk ke dalam kata saran yaitu baiknya, sebaiknya, seyogyanya
Contoh:
Jika
kita rajin membaca buku
Sebaiknya kita perbanyak membeli
buku
c. Kalimat Ajakan
Kalimat
yang berisi kata ajakan memiliki makna mengajak melakukan suatu hal.
Beberapa
contoh kata ajakan, yaitu ayo, ayolah,
mari.
Contoh:
Ayolah kawan jangan
melamun,
Melamun
tiada gunanya.
d. Kalimat Seru
Kalimat
yang berisi kata sifat atau pernyataan yang bermakna perasaan. Beberapa bentuk
pemaknaannya, yaitu gembira, kagum, heran, kecewa, atau sedih. Kata-kata yang
berkaitan dengan pemaknaan tersebut adalah wahai,
alangkah, betapa, buka main.
Contoh:
Wahai ananda ayah beramanat,
bekerjalah
engkau selagi sempat.
(Kutipan
Syair di buku Antologi Puisi Lama Nusantara: Berisi Nasihat)
e. Kalimat Larangan
Kalimat
yang berisi kata larangan atau memiliki makna larangan atau melarang. Beberapa
kata yang termasuk di dalamnya, yaitu jangan,
hindari, tidak.
Contoh:
Hendak
dimulai,
jangan melalui.
(Kutipan
Gurindam pasal sebelas dalam Gurindam Dua Belas)
f. Kata Penghubung/Konjungsi
Konjungsi
merupakan kata yang menghubungkan antarkalimat. Konjungsi memiliki beberapa
macam.
a)
Konjungsi
tujuan
agar, supaya, demi, untuk, guna
b)
Konjungsi
sebab
sebab, sebab itu, oleh sebab itu,
karena,
c)
Konjungsi
akibat
akibat, akibatnya, sehingga, maka
d)
Konjungsi
syarat
jika, bila, jikalau, apabila, bilamana,
kalau, asalkan
Contoh:
Kalau kerja terburu-buru,
tentulah kerja
banyak keliru.
Jika sedikitpun berbuat bohong,
boleh
diumpamakan mulutnya itu pekung.
g. Kalimat Tunggal
Kalimat
tunggal adalah kalimat yang dapat berdiri sendiri. Kalimat yang hanya terdiri
dari satu pola kalimat, yaitu minimal terdiri dari Subjek dan Predikat (S-P).
Kalimat Tunggal
|
S-P
|
S-P-O
|
|
S-P-K
|
|
S-P-O-K
|
Contoh:
Pisang Emas dibawa
ke pulau seberang
S P K
h. Kalimat Majemuk
Kalimat
majemuk adalah kalimat yang di dalamnya terdapat kalimat lain. Kalimat yang
minimal tersusun atas dua pola kalimat, yaitu 1 Subjek – 2 Predikat, 2 Subjek –
1 Predikat, 2 Subjek – 2 Predikat, dst. Selain itu, kalimat majemuk memiliki
beberapa macam.
Kalimat Majemuk
|
1 S – 2 P
|
1 S – 2 P – 2 O
|
|
2 S – 2 P – 2 K
|
|
1 S – 2 P – 2 O – 1 K
|
|
dan seterusnya
|
a)
Kalimat
Majemuk Setara
Kalimat
yang terdiri dari minimal 2 pola kalimat kemudian dihubungkan dengan konjungsi dan, atau
b)
Kalimat
Majemuk Bertingkat
Kalimat
yang terdiri dari minimal 2 pola kalimat kemudian dihubungkan dengan konjungsi dan – ketika, jika – maka, karena –
sehingga, dan seterusnya.
c)
Kalimat
Majemuk Hubungan Syarat
Kalimat
yang terdiri minimal 2 pola kalimat yang dihubungkan dengan konjungsi jika, jikalau, bila, apabila, bilamana
d)
Kalimat
Majemuk Hubungan Sebab
Kalimat yang terdiri minimal 2 pola kalimat
yang dihubungkan dengan konjungsi sebab,
sebabnya, karena, oleh karena iru, jika
e)
Kalimat
Majemuk Hubungan Tujuan
Kalimat yang terdiri minimal 2 pola
klaimat yang dihubungkan dengan konjungsi supaya,
agar
f)
Kalimat
Majemuk Hubungan Konsensip
Kalimat yang terdiri minimal 2 pola kalimat
yang dihubungkan dengan konjungsi walaupun, kalaupun, meskipun, kendatipun,
sungguhpun
g)
Kalimat
Majemuk Hubungan Akibat
Kalimat yang terdiri minimal 2 pola kalimat
yang dihubungkan dengan konjungsi sehingga,
maka, akibat, berakibat, akibatnya,
h)
Kalimat
Majemuk Hubungan Cara
Kalimat yang terdiri minimal 2 pola kalimat
yang dihubungkan dengan konjungsi cara,
dengan cara, secara, dengan
i)
Kalimat
Majemuk Hubungan Alat
Kalimat yang terdiri minimal 2 pola kalimat
yang dihubungkan dengan konjungsi dengan
j)
Kalimat
Majemuk Hubungan Perbandingan
Kalimat yang terdiri minimal 2 pola kalimat
yang dihubungkan dengan konjungsi ibarat,
seperti, bagaikan, bagai, laksana, laiknya, sebagaimana, lebih baik
Contoh:
Sungguh senang
bersamamu,
Bagai dunia milik berdua.
(kalimat majemuk hubungan perbandingan)
Bila dapat teman yang baru,,
Teman yang lama jangan
dilupa.
(Kalimat majemuk hubungan syarat)
Contoh
latihan menjawab soal struktur dan kebahasaan
Soal
1.
Gurindam
Pikir dahulu sebelum berkata,
supaya terelak silang sengketa
Jawaban:
Gurindam di atas memiliki struktur yang terdiri
dari 2 baris, yaitu baris ke-1 adalah pernyataan dan baris ke-2 adalah
tanggapan dari pernyataan baris ke-1.
Kebahasaan dari gurindam tersebut, yaitu
a.
Menggunakan
kalimat majemuk, yaitu antara baris ke-1 dan ke-2 saling berkaitan
b.
Pada
baris ke-2 terdapat kata konjungsi tujuan, yaitu supaya
Kesimpulannya,
gurindam tersebut terdiri dari Kalimat Majemuk Hubungan Tujuan.
2. Syair
Janganlah
engkau berbuat maksiat
Janganlah
engkau berbuat jahat
Segeralah
engkau bertaubat
Agar
selamat dunia akhirat
Jawaban:
Sayir
di atas memiliki struktur yang terdiri dari 4 baris dalam 1 bait. Semua barisnya
berupa isi.
Kebahasaan
dari syair tersebut, yaitu
a.
Baris
ke-1 : kalimat tunggal, kata perintah, yaitu janganlah
b.
Baris
ke-2 : kalimat tunggal, kata perintah, yaitu janganlah
Baris
ke-1 dan ke-2 tidak saling berkaitan sehingga disebut kalimat tunggal/mampu
berdiri sendiri. Selain itu, terdapat pula kata perintah pada kedua baris
sehingga disebut kalimat perintah.
c.
Baris
ke-4 : kata konjungsi tujuan, yaitu agar
d.
Baris
ke-3 dan ke-4 : Kalimat majemuk
Baris
ke-3 dan ke-4 saling berkaitan sehingga disebut kalimat majemuk. Selain itu,
pada baris ke-3 terdapat kata yang bermakna saran dan baris ke-4 terdapat kata
konjungsi tujuan sehingga disebut kalimat
majemuk hubungan tujuan.
Kesimpulannya, kebahasaan dari teks syair di atas
terdiri dari kalimat perintah dan kalimat majemuk hubungan tujuan
3. Pantun
Buah
duku dari Palembang
Pulau
Bali masyur mangganya
Baca
buku janganlah jarang,
sebab
buku jendela dunia
Jawaban:
Pantun
di atas memilik struktur 4 baris dalam 1 bait. Baris ke-1 dan ke-2 merupakan
sampiran. Baris ke-3 dan ke-4 merupakan isi.
Kebahasaan
dari pantun di atas, yaitu
a.
Baris
ke-1 : kalimat tunggal
b.
Baris
ke-2 : kalimat tunggal
c.
Baris
ke-3 dan ke-4 : kalimat majemuk
d.
Baris
ke-4 : kata konjungsi sebab, yaitu sebab
Baris
ke-1 dan ke-2 disebut kalimat
tunggal karena mampu berdiri
sendiri dan tidak saling berkaitan.
Baris
ke-3 dan ke-4 disebut kalimat majemuk karena kalimatnya saling berkaitan. Pada
baris ke-4 terdapat kata konjungsi sebab. Kesimpulannya pada baris ke-3 dan
ke-4 disebut sebagai kalimat majemuk hubungan
sebab.
Kesimpulannya,
teks pantun di atas memiliki kebahasaan kalimat tunggal dan kalimat majemuk
hubungan sebab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar